Selasa, 22 November 2011

Kebaya Sebagai Identitas Perempuan Indonesia


Nama : Atikah
NIM : 1111003100
Prodi : ILKOM

Topik : Identitas Nasional

Akhir-akhir ini kita sudah sulit menemukan penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Kebaya itu sendiri hanya ditemukan pada hari kartini, pernikahan, atau dalam kehidupan masyarakat desa atau dalam kehidupan kraton (kraton Yogyakarta atau Kraton Solo). Padahal pada era 1990-an busana ini masih sering tampil baik diacara kenegaraan maupun kehidupan sehari-hari di kota-kota besar. Kebaya pada masa itu merupakan pakaian formal dalam setiap acara resmi kenegaraan sampai kehidupan sosial kemasyarakatan. Hal ini terjadi karena menurunnya kebanggaan kita terhadap budaya dan jati diri bangsa. Dalam catatan Wikipedia.com terdapat pernyataan "Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni." Dalam kutipan ini kita temukan pernyataan bahwa kebaya juga merupakan pakaian tradisional Malaysia. Padahal kebaya adalah merupakan busana nasional yang tumbuh dari nilai luhur kebudayaan kita Indonesia, dalam hal ini Malaysia sudah mencoba memasukan kebaya sebagai busana tradisional mereka.  Tidak menutup kemungkinan jika nantinya Malaysia meng-klaim kebaya sebagai busana tradisonal mereka.Seperti halnya mereka meng-klaim salah satu kebudayaan Indonesia yaitu "reog pnorogo" sebagai kebudayaan mereka.Kemunduran ini dikhawatirkan menyebabkan lenyapnya jati diri bangsa.Pada hakekatnya secara nasional, seluruh bangsa Indonesia mengharapkan nila-nilai budaya Indonesia mampu memberikan aspresiasi di regional maupun internasional.Buktinya bangsa Indonesia sangat kecewa ketika nilai-nilai budayanya di klaim oleh Negara tetangga Malaysia sebagai nilai budayanya.
Jika kita perhatikan gaya hidup perempuan muda saat ini banyak dari mereka menggunakan busana yang cenderung kebarat-baratan. Bahkan sampai pada tata nilai yang tidak sesuai dengan norma-norma berpakaian di Indonesia.Kita dapat melihat kurangnya Kebanggaan perempuan muda saat ini kepada busana yang sejak lama menjadi identitas nasional kita seperti kebaya.Mereka lebih percaya diri tampil dengan menggunakan busana asing yang sama sekali tidak mencerminkan nilai budaya dan identitas perempuan Indonesia.Di acara resmi saja pakaian formal yang digunakan mereka saat ini kebanyakan adalah gaun atau dress, berbeda dengan perempuan di masa 1990-an yang menggunakan busana kebaya sebagai pakaian formal mereka.Jika kita membiarkan hal ini terus berlanjut dapat di khawatirkan pada masa yang akan datang busana kebaya akan dilupakan oleh perempuan Indonesia.

Untuk menanggulangi agar apa yang di khawatirkan itu tidak terjadi,kita perlu adanya upaya menumbuhkan kembali kebaya sebagai busana nasional.Upaya ini menjadi perlu untuk menumbuh kembangkan melihat munculnya penyimpangan-penyimpangan busana perempuan Indonesia dan pengingkaran nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat.Kita perlu meluruskan kembali nilai-nilai yang terlanjur berkembang liar, yang menjadikan kurangnya identitas perempuan bangsa kita menjadi longgar dan memprihatinkan.Sehingga bangsa Indonesia tidak mengalami krisis identitas, atau kehilangan jati dirinya.Dalam upaya kita untuk meningkatkan kebanggaan akan nilai-nilai tersebut dapat dimulai dengan tampilan media yang sanggup memberikan gambaran konkrit terhadap nilai-nilai budaya tersebut.Seperti, penayangan sinetron atau berbagai acara televisi lainnya yang mengangkat harkat nilai kebudayaan nasional yang menitik beratkan pada aspek busana tradisional agar lebih menjangkau pemirsa nasional.Akan tetapi,upaya ini tidak akan bekerja jika tidak adanya kesadaran dari generasi perempuan muda saat ini untuk bersama-sama bertekad menumbuhkan kembali kebaya sebagai busana nasional.Jika adanya kesadaran itu maka terbentuklah proses pembentukan karakter atau jati diri perempuan Indonesia.
Sebagai tokoh yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa Ibu Tin soeharto patut kita jadikan inspirasi kaum perempuan muda Indonesia untuk menumbuhkan kebanggaan mereka terhadap busana kebaya sebagai busana nasional Indonesia.Beliah adalah anak bangsa yang memiliki kearifan dan penilaian yang tinggi dan jauh mendalam terhadap budaya Indonesia.Bahkan kita boleh mengatakan bahwa beliau adalah benteng terakhir Ibu Negara yang mempertahankan penggunaan kebaya sebagai busana sehari-hari.Dan setelah beliau wafat tidak banyak ibu Negara yang tampil dengan busana kebaya dalam kehidupan sehari hari.Beliau adalah sosok perempuan dan Ibu Negara yang menggambarkan secara persis nilai-nilai luhur kebudayaan dan busana nasional Indonesia serta makna dari jati diri bangsa.Dalam membangun nilai-nilai luhur kebudayaan ini beliau juga menekankan dan mengajarkan generasi perempuan pada masa itu untuk berkebaya bahkan beliau juga yang sangat keras menentang ikut sertanya perempuan Indonesia mengikuti kontes miss word di ajang internasional meskipun sa'at itu Indonesia menjadi pemimpin Negara non-blok.Disini kita dapat membanyangkan bagaimana beliau membangun karakter bangsa yang disiplin dalam hal berpakaian.Tidak seperti hal-nya yang banyak di tonjolkan oleh generasi perempuan saat ini,jika kita perhatikan putri Indonesia dalam kesehariannya dalam hal berbusana tidak menampilkan kesan yang menjungjung tinggi nilai kebaya Indonesia.Mereka lebih sering menggunakan gaun atau pakaian lainnya dalam kegiatan-kegiatannya sebagai putri Indonesia.Bahkan terkadang mereka juga menggunakan busana yang cukup terbuka.Berbeda sekali dengan yang dicontohkan Ibu Tin Soeharto yang menonjolkan busana kebaya sebagai busana yang di gunakan dalam kegiatan-kegiatannya bahkan kesehariannya. Beliau menampilkan etika kesopanan pakaian perempuan Indonesia.Dan secara garis besar beliau membangun pribadi-pribadi perempuan Indonesia yang berbudaya sehingga terciptalah masyarakat yang berbudaya pada masanya.Berdasarkan pada penampilan generasi muda saat ini,hal ini menunjukan bahwa yang menjadi kunci permasalahan adalah bahwa pada masa kini kita sudah kehilangan sosok yang menjadi "Teladan" dalam hal berbusana.Kalau sudah begini : Siapa lagi yang dapat dijadikan Teladan/Panutan?....Apakah kita sebagai perempuan Indonesia tidak mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada perempuan generasi muda yang akan datang sebagai penerus bangsa ini?jawabannya kembali kepada masing-masing pribadi kita.Dengan wafatnya Ibu Tin soeharto kita mengalami krisis identitas yang menyangkut karakter bangsa secara keseluruhan,menyangkut karakter seperti Ibu Negara atau putri Indonesia saat ini yang seharusnya merupakan perempuan yang dapat memberikan teladan kepada perempuan Indonesia.Akibat lebih jauh lagi,secara sadar atau tidak sadar mereka hanya andil dalam mengubah karakter bangsa secara perlahan-lahan dari bangsa yang mempunyai jati diri dan nilai-nilai kebudayaan yang kuat dan berbudi luhur dalam berpakaian,menjadi bangsa yang kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhurnya. Sehingga kehilangan harkat dan martabatnya.
Untuk dapat terlaksananya membangun kembali kebanggaan perempuan muda saat ini dengan kebaya,Kita seharusnya kembali sebagai bangsa yang menjungjung tinggi nilai luhur dan kebudayaan melalui intropeksi pada diri kita masing-masing dan mau berupaya "Menumbuhkan kembali kebaya sebagai busana nasional dan Jati diri kaum perempuan Indonesia" dengan cara menyemai Jati diri untuk membentuk "Teladan" dan diperlukan "Hasrat Untuk Berubah" sehingga kita bersama-sama berhasil dalam "Membangun kembali karakter perempuan Indonesia".Bukannya malah kita menggunakan  busana nasional yang lebih menitik beratkan pada aspek ekonomi daripada aspek keluhuran dan nilai kebudayaan yang melekat pada penampilan busana nasional yang lebih banyak mempengaruhi runtuhnya nilai luhur kebudayaan itu sendiri.Seharusnya kaum prempuan Indonesia lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan dari pemakaian busana nasional ketimbang nilai materialistiknya sebagaimana masyarakat jepang yang mampu mempertahankan nilai luhur busana kimono dalam mengekspresikan busana nasional jepang.

2 komentar:

  1. Suatu waktu, sebagai pedagang saya menawarkan mukena kepada seorang sahabat. Sejawat sesama Jurnalis, awalnya saya tawari mukena yang harganya relatif murah.

    Ia MARAH, "kenapa kamu tidak tawarkan MUKENA DISTRO aja! saya sanggup kok membelinya. Meski saya tidak cantik tapi saya tidak ingin kurang aja para TUHAN, giliran kerja pakaiannya bagus-bagus dan harga ratusan ribu. giliran menghadap pada TUHAN mukenanya harga 30rb-an"

    BalasHapus
  2. Suatu waktu, sebagai pedagang saya menawarkan mukena kepada seorang sahabat. Sejawat sesama Jurnalis, awalnya saya tawari mukena yang harganya relatif murah.

    Ia MARAH, "kenapa kamu tidak tawarkan MUKENA MURAH DISTRO aja! saya sanggup kok membelinya. Meski saya tidak cantik tapi saya tidak ingin kurang aja para TUHAN, giliran kerja pakaiannya bagus-bagus dan harga ratusan ribu. giliran menghadap pada TUHAN mukenanya harga 30rb-an"

    BalasHapus