Selasa, 22 November 2011

Prinsip Dasar Kehidupan Berbangsa


(Oleh : Rizky Chandra)

Topik : Pancasila sebagai sistem Filsafat dan Etika

Pancasila merupakan ideologi bangsa indonesiaa atau bisa disebut juga pancasila merupakan lima pedoman dasar tanah air kita yaitu  bangsa Indonesia. Seperti yang kita ketahui semua warga negara indonesia kenal bahakan Hafal sila-sila pancasila, pada waktu kita kecil atau tepatnya kita masuk bangku sekolah, seorang guru kita menyuruh kita menghafalkan sila sila pancasila, karena hampir setiap minggu kita mengucapkan 5 sila tersebut pada upacara bendera yang biasanya dilakukan setiap hari senin selama kita menduduki  bangku sekolah dasar (SD), sekolah menengah (SMP) dan sekolah menengah akhir (SMA) pancasila tersebut selalu kita kita ucapkan pada saat itu, belum lagi disetiap tahun, Kita sebagai pelajar yang menimba ilmu di  Indonesia setiap tahunnya kurang lebih 12 tahun selalu mendapatkan mata pelajaran yang dahulu disebut Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), bahkan hingga bangku kuliah saya masih mendapatkan pelajaran ini walau hanya satu semester. Harapan guru atau pembimbing kita adalah setiap saat kita Selalu mengamalkan sila sila pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Kali ini saya akan menjelaskan lebih rinci apa itu sila sila pancasila
1.Ketuhanan  yang  maha Esa
Makna yang tekandung dari sila ini adalah kita sebagai bangsa indonesia  percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup antar umat bergama.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Makna sila ini adalah mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia dalam segala aspek misalnya kita semua saling mencintai sesama manusia dan saling  bersikap tenggang rasa sesama yang lain.


Batik yang Mulai Terlupakan di Era Modern ini


(oleh : Rionaldi Aristyo)

Topik  : Identitas Nasional 

            Sebelum batik diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan dunia milik Bangsa indonesia sangat jarang saya melihat masyarakat kita memakai batik dalam kesehariannya. Mereka hanya memakainya untuk menghadiri acara-acara formal seperti perayaan hari-hari nasional, ceremony, atau pada saat perayaan pesta pernikahan. Bahkan beberapa dari mereka enggan memakai batik walaupun harus menghadiri acara-acara tersebut. Pada waktu masih duduk di bangku SMA, sekolah saya yang berada di Yogyakarta menganjurkan para siswa dan siswinya untuk memakai batik pada hari Jumat. Tetapi pada praktiknya sebagian besar dari mereka tidak berpakaian batik pada hari yang telah ditentukan. Saat saya bertanya alasan mengapa mereka enggan memakai batik pada hari Jumat karena menurut mereka batik itu kuno, tua, dan tidak keren. Jawaban mereka mungkin telah merefleksikan alasan dari sebagian besar kaum pemuda dan rakyat negeri ini yang enggan memakai batik. Padahal, batik merupakan salah satu identitas nasional dari Bangsa Indonesia yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.

            Indonesia memiliki beberapa sentra batik yang cukup terkenal. Diantaranya adalah Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan Bali (batikmarkets.com). Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri baik dari segi kain, motif, tekstur, warna, maupun cara pembuatannya. Seperti pada batik yogya dengan perpaduan warnanya, dan batik pekalongan dengan corak membulatnya. Hal ini semakin menambah keanekaragaman kebudayaan nasional sebagai identitas nasional karena pada setiap masing-masing kebudayaan masih terdapat sub-kebudayaan yang juga tidak kalah banyak macamnya. Walaupun diguncang oleh berbagai masalah seperti dana, tenaga kerja ataupun gejolak harga yang tidak menentu mereka masih mencoba untuk tetap bertahan agar produksinya bisa berjalan. Bantuan dari pemerintah juga sangat diperlukan oleh para pengrajin batik kita karena dengan adanya uluran tangan tersebut mereka bisa mengembangkan bisnisnya sehingga produksi batik nasional bisa semakin berkembang sekaligus sebagai salah satu upaya untuk melestarikan batik kita.

Martabat Bangsa Indonesia, Siapa yang Peduli ?



(Oleh : Rionaldi Aristyo)

Topik  : Bela Negara

            Beberapa waktu lalu saat sedang terjadi pergolakan di blok ambalat karena negara tetangga kita dengan seenaknya melanggar territorial perbatasan Indonesia dan Malaysia sudah membuat saya dan mungkin jutaan rakyat negeri ini geram. Bagaimana tidak, saat negeri ini butuh wibawa pemerintahnya untuk menunjukan jati diri bangsa indonesia yang terjadi adalah seakan-akan kita telah kehilangan “taring” yang bisa menunjukan bahwa kita merupakan bangsa yang besar dan mempunyai harga diri. Padahal kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya. Malaysia sudah berkali-kali melakukan hal yang sama. Bahkan, selain itu mereka juga mencabut patok-patok perbatasan di Kalimantan, tetapi apa yang pemerintah kita bisa lakukan,  hanya melakukan konferensi pers, sidang, rapat, tetapi tanpa ada langkah-langkah konkret yang bisa kita lihat hasilnya. Sedangkan yang saya bisa lakukan bersama beberapa teman dan rakyat Indonesia hanyalah berharap, bersabar, dan berdo’a supaya pemerintahan negeri ini bisa menjadi lebih baik lagi.
            Apabila kita berkaca pada negara-negara lain seperti USA, China, Korea Selatan, dan Jepang mereka tidak pernah begitu saja membiarkan pesawat atau kapal dari negara lain melintasi daerah teritorial mereka tanpa ada izin dari otoritas setempat dan apabila tetap ada yang melanggar perbatasan negara yang bersangkutan militer mereka telah siap untuk menembak ataupun menangkap para penyusup tersebut. Pemerintah setempat bahkan siap untuk membela harkat dan martabat negara mereka lewat jalur politik dan diplomasi seperti mengirimkan nota protes ke negara penyusup dengan risiko apapun yang siap mereka tanggung demi kepentingan negaranya. Rakyatnya pun juga selalu siap untuk membela negara mereka dengan cara apapun. Hal ini menunjukan kesadaran bela negara yang tinggi dari negara tersebut baik pemerintahan maupun rakyatnya.

            Pada akhir era orde lama dan awal orde baru, Indonesia pernah dijuluki sebagai “Macan Asia” karena keberhasilan kita dalam bidang ekonomi, pembangunan, dan kemiliteran. Pada bidang perekonomian ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dan keberhasilan pada bidang pangan dengan tercapainya swasembada beras. Di bidang pembangunan pada waktu itu telah tersusun secara sistematis dengan dilaksanakannya PELITA (Pembangunan Lima Tahun) yaitu periode pembangunan yang tercapai dalam suatu jangka waktu tertentu dan mencakup berbagai aspek kehidupan. Sedangkan pada bidang kemiliteran ditandai dengan keberhasilan kita dengan memiliki kapal selam yang pada saat itu masih jarang dimiliki oleh negara-negara Asia serta membuat pesawat terbang militer dan komersial lewat IPTN (sekarang PTDI).